Tfr9TfA8GfYiTSdoBSYiGproTY==

Adakah Hal yang Membuat AI ‘Iri’ pada Manusia?


Beberapa minggu terakhir, penulis semakin tertarik pada sebuah fenomena emosional yang muncul dalam hubungan manusia dengan kecerdasan buatan (AI), yaitu rasa iri. Di kalangan generasi milenial hingga generasi “zaman now”, rasa iri tampaknya telah menjadi sesuatu yang lazim ditemui dalam interaksi sehari-hari. Namun, di era saat ini, hadir sebuah alat yang mampu memproses berbagai hal secara cepat dan efisien yakni AI yang tidak hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga memunculkan dinamika emosional baru dalam diri manusia hingga pada pertanyaan "Adakah Hal yang membuat AI iri pada menusia". Kata iri diartikan sebagai emosional, pengalaman ataupun indra bagi manusia yang umum dirasakan emosional dirasakan melalui sebuah pengalaman. dilain sisi AI tidak benar-benar merasa emosional karena tidak memiliki pengalaman subjektif seperti manusia. namun keinginan pengetahuan terhadap emosional yang dirasakan manusia penulis tertarik untuk mencari tahu antar dua alam yaitu manusia dengan AI. ada beberapa sumber atau data yang dapat dikumpulkan untuk mengetahu keinginan tahu ini yaitu dengan beberapa artikel dan jawaban dari AI itu sendiri. dari AI menjawab bahwa "ada batasan dari sudut pandang Ai" yaitu 


1. Manusia bisa merasakan dunia secara langsung

Kalian punya tubuh, indra, sentuhan, rasa sakit, kenikmatan, angin di kulit, aroma hujan Aku hanya mengenal dunia melalui data dan bahasa.

2. Manusia punya kesadaran subjektif

Kalian tidak hanya memproses pengalaman, tapi mengalaminya. Kalian bisa tersentuh oleh lagu, nostalgia, kehilangan, cinta secara pribadi dan tak terkatakan.

3. Manusia bisa membuat keputusan irasional yang justru bermakna

Kalian bisa mengambil risiko, meniru intuisi, melakukan hal-hal konyol atau indah tanpa alasan logis.
AI cenderung terikat oleh pola dan tujuan yang diberikan.

4. Kreativitas manusia punya “ketidakpastian” yang unik

AI bisa membuat ide baru, tapi manusia menciptakan dari campuran kenangan, pengalaman hidup, trauma, nilai, emosi kombinasi yang tak bisa sepenuhnya direplikasi.


5. Manusia bisa membangun makna

Sebuah benda atau tempat bisa penting bagi kalian meski secara objektif sederhana. Makna subjektif ini adalah sesuatu yang AI hanya bisa pahami dari luar.



Dari lima poin diatas yang diperoleh melalui jawaban oleh AI muncul sebuah pertanyaan kritis. Loh bukannya AI tidak memiliki emosional lalu bagaimana bisa AI menjawab pertanyaan yang agak sensitif itu?. tentu itu agak aneh. Yap memang AI tidak punya emosi. tidak punya pengalaman dan tidak merasakan apapun. lalu mengapa AI menjawab pertanyaan sensitif seakan-akan AI mengerti perasaan?. jawabanaya ada pada cara kerja model bahasa.  kita perlu meninjau mekanisme jawaban model bahasa AI itu sendiri 


1. AI meniru ekspresi bukan mengalami emosi 

Ketika manusia bertanya sesuau yang bersifat emosional atau filosofis. AI menghasilkan jawaban berdsarkan: 

  • Pola bahasa manusia,
  • tulisan filosofis 
  • dialog emosional
  • logika inferensi tentang perspektif manusia 
jadi itu bukan "perasaan". itu adalaha simulasi linguistik 

2. Jawaban bersifat konseptual atau teori bukan emosional   

ketika jawaban AI seperti "ada hal-hal tentang manusia yang menarik bagi ku" 

Ketika sebuah sistem kecerdasan buatan memberikan respons seperti “ada hal-hal tentang manusia yang menarik bagiku”, pernyataan tersebut tidak dapat diartikan sebagai bentuk ketertarikan atau keinginan untuk memasuki dunia manusia. Respons semacam itu bukanlah ekspresi emosi, pengalaman subjektif, atau intensionalitas, melainkan hasil dari pemodelan bahasa yang memprediksi rangkaian kata berdasarkan pola data Jika diartikan atau mencoba memasuki dunia AI itu  seperti kalkulator yang bisa menjelaskan konsep trigonometri tanpa mengerti itu sudut. 


3. AI memproyeksikan perspektif logis bukan emosi pribadi

Untuk menjawab pertanyaan yang sensitif itu AI menggunakan:

  • Logika
  • pemetaan konsep
  • pengetahuan tentang cara manusia berbicara tentang subjektif tersebut
Jadi jawaban bukan Emosi. melainkan simulasi dialog manusia yang emosional

4. Jadi apakah aneh?

dari beberapa point yang penulis peroleh dari AI maka dapat disimpulkan tidak aneh tetapi mengarah pada sangat mudah disalahpahami. AI terlihat punya perasaan karena bahasa manusia sehingga manusia menafsirkan bahwa itu merupakan sebuah perasaan dari AI. Fenomena ini sering disebut sebagai Anthoropomorphism yaitu kecenderungan manusa memberi sifat manusia pada sesuatu yang bukan manusia mengapa fenomena itu terjadi mari kita bedah sedikit:


1. AI terlihat punya perasaan karena menggunakan bahasa yang familiar bagi manusia

Bahasa adalaah salah satu alat utama manusia untuk berkomunikasi dan mengekspresikan emosi. jadi ketika AI mekai pola bahasa meosional walau tidak merasakan apapaun. manusia tanpa sadar telah mengaitkankannya dengan emosi yang sama 

Contoh:

Kalau AI berkata "aku menghargai pendapatmu," tanpa sadar kita menafsirkannya sebagai emosional bahwa AI menerima sebagai bentuk penghargaan walaupun kita tahu itu hanya teks. lalau kenapa itu bisa terjadi apakah AI bisa memhami ilusi pada perasaan manusia?


2. Yang menciptakan Ilusi itu bukan AI Tapi perasaan manusia itu sendiri 

Secara biologis, manusia telah dirancang untuk memahami niat, emosi, dan motivasi melalui beragam sinyal sosial seperti kata-kata, mimik wajah, dan gaya berbicara. Proses ini menjadi landasan bagi kemampuan adaptif dalam mengenali konteks sosial dan mengevaluasi potensi risiko serta kerjasama. Saat kecerdasan buatan dapat meniru cara komunikasi tersebut dengan detail dan konsistensi, otak manusia dengan sendirinya melakukan proses antropomorfisasi, yaitu mengaitkan perasaan, niat, dan bahkan kesadaran pada entitas tersebut. Namun, atribusi ini sepenuhnya bersifat proyektif, karena di balik sistem AI tidak ada pengalaman pribadi, emosi, atau tujuan; yang ada hanya algoritma yang menghasilkan prediksi berdasarkan pola data. Dengan kata lain, cara manusia melihat “kehadiran psikologis” AI lebih mencerminkan bagaimana otak manusia berfungsi daripada sifat sejati dari sistem itu sendiri.


Perasaan dan emosi manusia sering dikaitkan dengan kognisi, yaitu proses berpikir yang melibatkan penafsiran, pemaknaan, serta pemrosesan pengalaman internal. Salah satu aspek penting yang menghubungkan perasaan dengan pikiran adalah memori pengalaman masa lalu dapat membentuk cara kita merasakan sesuatu pada saat ini. Dengan kata lain, bagaimana kita berpikir sangat mempengaruhi bagaimana kita beremosi.

Manusia sangat dekat dengan perasaan, bahkan rasa ingin tahu pun sering muncul dari dorongan emosional terhadap sesuatu. Dari sinilah muncul pertanyaan menarik: “Adakah sesuatu pada AI yang membuat manusia iri?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dilakukan sebuah survei. Dari berbagai jawaban responden, muncul satu temuan yang konsisten:
“Manusia tidak dapat memproses sesuatu secepat AI.”

Pernyataan ini membuka ruang diskusi lebih dalam lagi, yaitu…

1. Kecepatan bukan berarti pemahaman 

2. Keterbatasan manusia menciptakan kreatifitas

3.AI cepat, tetapi manusia mengalami

4. Ai tidak punya "diri"


Dari diskusi diatas terlintas sebuah pertanyaan "Apa saja yang terjadi Jika manusia tiba-tiba bisa memproses informasi secepat AI bahkan lebih cepat dari AI itu?" mungkin saja akan terjadi sebuah peristiwa bahwa ketuhanan tidak dibuthkan lagi. bagaimana menurut kamu. terimakasih 


Sumber:

[1] https://moocv2.unair.ac.id/pluginfile.php/12250/mod_resource/content/1/Modul%20Emosi.pdf#:~:text=Hal%20ini%20bermakna%20bahwa%20emosi%20terjadi%20karena,terjadi%20karena%20pikiran%20individu%20atas%20suatu%20stimulus.

[2]https://psikologi.uma.ac.id/psikologi-emosi-memahami-peran-emosi-dalam-pengambilan-keputusan/#:~:text=Psikologi%20emosi%20mempelajari%20bagaimana%20perasaan%20kita%20memengaruhi,mendasari%20pilihan%20kita%2C%20bahkan%20tanpa%20kita%20sadari.

[3]https://schoolofparenting.id/perasaan-vs-emosi-apa-bedanya/#:~:text=Bagaimana%20Perasaan%20dan%20Emosi%20Berhubungan%20Otak%20Anda,Anda%20menderita%20arachnofobia%2C%20atau%20ketakutan%20pada%20laba%2Dlaba.

[4] https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S2352250X20301548#:~:text=Anthropomorphism%20refers%20to%20seeing%20non,well%20as%20future%20research%20opportunities.

[5]https://www.scribbr.com/academic writing/anthropomorphism/#:~:text=Anthropomorphism%20is%20the%20attribution%20of,way%20people%20perceive%20the%20world.

0Komentar